Sunday 4 January 2026 - 22:43
Imam Ali (as), Pilar Persatuan Umat dan Standar Kebenaran Sejarah Islam

Hawzah/ Seorang anggota Dewan Pusat Hizbullah Lebanon menegaskan kedudukan istimewa Amirul Mukminin Imam Ali (alaihis salam) dalam tatanan pemikiran dan praktik Islam, serta menyebut kepribadian beliau sebagai poros penjaga agama, pemersatu umat Islam, dan teladan abadi dalam menghadapi perpecahan, ekstremisme, serta pemikiran takfiri.

Berita Hawzah – Syekh al-Baghdadi, anggota Dewan Pusat Hizbullah Lebanon, dalam wawancara dengan wartawan Berita Hawzah, menjelaskan berbagai dimensi kepribadian Imam Ali (alaihis salam) dan menegaskan peran sentral beliau dalam meneguhkan ajaran Islam serta menjaga kohesi sosial umat Muslim.

Dengan merujuk pada sumber-sumber sejarah dan riwayat yang otentik, ia memperkenalkan Imam Ali (alaihis salam) sebagai sosok yang paling dekat dan paling memahami Rasulullah Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa aalihi). Ia menegaskan bahwa memahami sirah Alawi tidak mungkin dilakukan tanpa memperhatikan ikatan spiritual dan intelektual yang mendalam antara Nabi Islam dan Amirul Mukminin (alaihis salam).

Kedudukan Istimewa Imam Ali dalam Tatanan Kenabian

Anggota Dewan Pusat Hizbullah Lebanon itu merujuk pada hadis masyhur, “Engkau bagiku seperti kedudukan Harun bagi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku,” seraya menyatakan bahwa sabda Nabi ini menunjukkan Imam Ali (alaihis salam) bukan hanya sebagai penerus spiritual, tetapi juga pelanjut jalan pemikiran dan sosial Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa aalihi).

Ia menambahkan bahwa hadis tersebut mencerminkan tingkat kepercayaan Rasulullah yang sangat mendalam kepada Imam Ali (alaihis salam), serta menjadi gambaran nyata keselarasan total dalam pemikiran, tujuan, dan tanggung jawab antara Nabi dan Amirul Mukminin.

Syekh al-Baghdadi juga menekankan peran tak tergantikan Imam Ali (alaihis salam) dalam membela Islam. Menurutnya, sejak hari-hari awal risalah kenabian hingga detik-detik terakhir kehidupan Rasulullah, Imam Ali senantiasa berada di barisan terdepan dalam menjaga agama Allah.

Dengan mengingat keberanian Imam Ali (alaihis salam) dalam peperangan seperti Badar, Uhud, dan Khandaq, ia menyatakan bahwa keberanian dan pengorbanan Alawi memperkuat semangat kaum Muslimin serta menjadi faktor penangkal bagi musuh-musuh Islam, bahkan kehadiran beliau di medan perang kerap mengubah peta pertempuran.

Ia menegaskan bahwa peran Imam Ali (alaihis salam) tidak terbatas pada medan perang, tetapi juga mencakup bidang sosial, politik, dan keagamaan sebagai pendukung utama Rasulullah dan penjaga kemurnian jalan Islam.

Persatuan Umat Islam; Prioritas Utama Sirah Alawi

Syekh al-Baghdadi, dengan menyebut Imam Ali (alaihis salam) sebagai “Al-Qur’an yang berbicara”, menyatakan bahwa salah satu strategi terpenting Amirul Mukminin adalah mendahulukan kemaslahatan umat Islam di atas kepentingan pribadi, sebuah prinsip yang hingga kini menjadi kebutuhan mendesak dunia Islam.

Ia menambahkan bahwa bahkan setelah wafatnya Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa aalihi), meskipun Imam Ali dan keluarganya menghadapi berbagai penderitaan dan ketidakadilan, beliau tetap menghindari segala tindakan yang dapat memicu perpecahan di kalangan kaum Muslimin dan senantiasa membela persatuan umat.

Menurutnya, pada masa pemerintahan Imam Ali (alaihis salam) pun, meskipun menghadapi tekanan dan krisis yang berat, beliau tidak pernah mengabaikan prinsip persatuan dan solidaritas umat Islam.

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha